Saturday, October 8, 2016

English Speech Script (The importance of Education Toward Character Building)

Welcome to this blog. 
When you visit this blog, I personally believe that you are the one who wants to learn how to make a speech script and be a good public speaker. This time I’d like to share the script of English speech. When you decide to join a speech competition,
The first thing comes out from your mind is “how will I begin to make a script which I’m going to memorize? How to make the great arragement of ideas? What’s the best idea should come first? Then what’s next?” well it’s natural you exprerience those.
A good speech script should consist of Greeting. This might have been familiar for us that it’s, I may say, a must for speakers to initiate their speech with greeting. The greeting becomes a way you will be accepted as standing in front of audience. Greetings are delivered to the ones who are most in charge of the events then come to the ‘lower’ people. Additional opening might be also needed for supporting your greating. Most ‘moslem’ speakers start the greeting by preface what we usually call “muqoddimah” followed by praises for God and Prophets.
Then following hesitations may haunt you such as “how can I memorize them all? How can I avoid being ‘Blank’ on the stage? Well it is simple. The more you practice, the more your confidence will rise. I might also suggest you not to be bored of practicing. When you push yourself to practice much, being bored just means you have enought excersise.
Below I’ll give the example of good English script.


The Importance of Education Toward Character Building
Assalamuaikum wr wb
Muqoddimah (Hamdalah)
The honorable juries and the audience
Good morning
All praises be to Allah SWT, for giving us guidance. So that we can gather here in this beautiful day. And also may shalawat and salam be delivered to the best creature, our leader, our prophet, Muhammad SAW, because of him, our life now becomes bright.

Ladies and gentlemen
Nowadays, the current advancement in information and technology has required people to contribute in the world development. And one of the most influential aspects to gain the goal is through education.
However, the recent social phenomena show the increasing criminal behavior and lawbreaking in society, such as a mass clash and other various cases of moral decadence. Even several educated people dare to do corruption in high institutions. These are caused by the moral degradation of the individuals.
That’s why, in this occasion today I would love to discuss about the importance of education toward character building. Now, before we go further about this topic, it is better to know the definition of education. What is education? Education is a process that involves the transfer of knowledge, habits and skills from one generation to another through teaching, research and training. In fact, education is the most effective way of increasing economic growth, health, and reducing poverty. And what about character? Character is the particular combination of qualities in a person that makes them different from others such as honesty, leadership, trust, courage, and patience.
If people ask, is education strongly related to character building? My answer is yes. In my opinion, through character building, education will lead our next generation into a better morality.
Supporting this idea, the Rector of Atma Jaya University, Dr. Maryatmo says that the emotional and spiritual intelligence is important in building a strong, independent, and active character.
As the result, let’s see now, in 2013 curriculum, character building has been proposed to be taught to all students in Indonesia. This is one of the efforts that our government plans to establish the students’ personalities, to become a good human being, society, and citizens.  
Ladies and gentlemen
Character is just like a seed and education is the ground. So, if you plant your seed in the fertile ground, you will reap the good result.
So what can we conclude from this discussion? The goal of true education is building intelligence and character. And through education, people with a good character will be led to the better future.
That’s all what I can say in my speech. Thank you. Have a good time.
Wassalamualaikum wr wb.

Thank you for visiting my blog. Any ideas and suggestion are welcome.


I am looking forward to having your comment and share below.  J

Friday, January 16, 2015

Pertemanan Antar Bahasa

Keunikan Pertemanan antar Budaya Indonesia dan Jerman
serta Pertemuan Nilai-Nilai dari Keduanya;
“Is it strange for you?”

PENDAHULUAN
Lain ladang, lain pula belalangnya. Kalimat tersebut menjadi slogan yang cocok untuk berbicara tentang budaya. Setiap wilayah, bangsa, dan negara memiliki budaya masing-masing. Setiap negara pastinya memiliki budaya yang berbeda satu sama lain seperti perbedaan dalam gaya berkomonikasi, pendidikan, bisnis, etos kerja, nilai pertemanan, dan aspek-aspek lain. Kebudayaan erat hubungannya dengan masyarakat. Kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, ilmu pengetahuan, keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, norma sosial, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Terdapat banyak cara bagaimana kita bisa mempelajari budaya lain, salah satunya adalah melalui pertemanan antar budaya. Pertemanan adalah sebuah hubungan dimana beberapa orang saling mengetahui, suka, dan percaya satu sama lain (Levine&Adelman:1992). Pertemanan antar negara menjadi cara untuk bisa meningkatkan kesadaran akan pentingnya toleransi antar budaya.
Memiliki banyak teman bukan dari negara sendiri saja ternyata cukup menyenangkan. Berteman dengan orang-orang yang tidak satu negara dengan kita memiliki kesenangan tersendiri. Susah diungkapkan dengan kata-kata bagaimana kesenangan-kesenangan itu. Umur tidak menjadi batasan dalam hubungan pertemanan aku dengan mereka. Kalau mereka menghendaki memanggil mereka dengan kakak atau abang, aku akan memanggil mereka dengan sebutan tersebut. Tapi kalau mereka lebih menyukai aku memanggil dengan sebutan nama saja, aku akan memanggil nama mereka saja. Sesuai apa yang mereka inginkan.
Banyak sekali kesenangan dalam berkawan dengan orang yang berbeda bangsa. Kita bisa bertukar pikiran dari dua budaya yang berbeda, mempelajari budaya negara lain, belajar bahasa mereka, dan saling bertukar informasi tentang apa yang “happening” di negara kita. Bertukar berbagai macam hal merupakan daya tarik tersendiri dari hubungan pertemanan itu.
Dalam menjalin pertemanan, terutama yang memiliki perbedaan budaya, tentu membutuhkan kesadaran budaya yang tinggi. Karena perbedaan budaya dapat memunculkan perbedaan pendapat, persepsi, dan bahkan stereotype (Levine&Adelman:1992). Perbedaan pendapat yang seringkali menimbulkan pertengkaran, sebenarnya lumrah untuk dihadapi setiap orang. Tetapi pertengkaran bukanlah hal yang seharusnya menimbulkan perpecahan atau konflik berkepanjangan. Sesama teman, ada baiknya bila kita lebih toleransi dan lapang dalam menerima setiap perbedaan.

PEMBAHASAN
Dalam pembahasan ini akan dibahas pertemanan antar budaya dan pentingnya toleransi antar keduanya. Ini semua berdasarkan pengalaman yang saya alami selama berteman dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Diantara teman lintas budaya yang saya miliki, saya memilih teman saya yang berasal dari Jerman, karena notabene budaya Eropa memiliki perbedaan budaya yang cukup menonjol dengan budaya Asia. Dia sempat tinggal di Indonesia selama satu bulan. Pertemanan ini telah berlangsung empat bulan terhitung sampai tulisan ini saya buat.
Berteman atau menjalin komunikasi dengan orang tidak sebudaya, memang sedikit menantang. Ini berarti bahwa kita harus mampu mempelajari dan mengenal kebudayaan mereka. Oleh karenanya, mengenali budaya luar sangat penting. Contohnya, saya memiliki teman dari Prancis. Saya harus dapat meluangkan waktu untuk mempelajari sedikit tentang kebudayaan teman saya. Mengapa sedikit? Karena saat kamu tahu bahwa dia (temanmu) berasal dari kepulauan yang sama, kamu bisa bertanya banyak hal dari yang tidak kamu ketahui sebelumnya. Tapi dengan pengetahuan yang telah kamu miliki sebelumnya, biasanya, seseorang akan merasa senang saat ada satu atau dua hal yang orang lain tahu tentang dirinya. Dan setelah itu, dia akan mulai memberikan respon yang baik dengan mencoba mengenali kebudayaanmu.
Sekilas Tentang Jerman
Sebelum kita mulai dengan pembahasan inti, mari kita mengenal secara umum tentang Jerman. Dalam Jerman yang berpenghuni sekitar 82 juta orang jauh mendahului negara anggota Uni Eropa lainnya sebagai negara yang paling padat penduduknya (kaskus:2014). Jerman merupakan negara modern yang terbuka terhadap dunia luar. Masyarakatnya ditandai oleh keanekara¬gaman gaya hidup dan ciri etnobudaya. Bentuk-bentuk kehidupan bersama menjadi lebih beragam, sedangkan ruang gerak bagi individu diperluas. Pembagian peran yang berlaku secara tradisional bagi laki-laki dan perempuan telah dilonggarkan. Meskipun terjadi perubahan dalam masyarakat, keluarga tetap merupakan kelompok relasi sosial terpenting, dan generasi muda memelihara hubungan sangat erat dengan orang tua mereka.
Nilai-Nilai  Budaya Indonesia dan Jerman
Selama pertemanan ini saya menemukan fakta unik dan perbedaan budaya yang kami rasakan. Fakta tersebut mencakup nilai kebiasaan, cara komonikasi, dan nilai pertemanan. Berikut akan dijelaskan secara dalam tentang nila-nilai tersebut.
Nilai yang saya pelajari adalah bahwa gaya hidup orang Jerman lebih cenderung individu. Hal ini sejalan dengan nilai di Amerika yang juga menekankan pada individualisme. Geißler (2014) mengatakan bahwa masyakarat Jerman bersifat modern. Kebanyakan orang memiliki pendidikan yang baik, taraf hidup yang tinggi dalam perbandingan internasional, dan ruang gerak yang cukup luas untuk mengatur kehidupan secara individual. Mereka sangat menjunjung tinggi privasi, bahkan ini menjadi kebutuhan. Mereka mengutamakan waktu privasi dan tidak terlalu menyukai hal yang dilakukan bersama-sama. Mereka akan benar-benar bersama dengan keluarga atau deman dekat hanya ketika telah datang hari libur dan akhir pekan. Tentu ini sangat bertolak belakang dengan kebudayaan kita di Indonesia. Kita sangat suka melakukan apapun secara beramai-ramai. Tidak heran, kita sering menemukan istilah “mangan gak mangan seng penting ngumpul”. Seperti contoh, para remaja dan dewasa sering hangout dan makan bersama-sama dengan keluarga, sahabat, dan teman-teman mereka. Hal ini yang menimbulkan culture shock dalam pertemanan kami. Kalimat yang mengindikasikan hal tersebut adalah ketika bilang “is it strange for you?” dan “you may think it is strange for you”. Marilah kita analisa kalimat tersebut berdasarkan arti kata. Kata “you” lebih merujuk pada orang atau budaya Indonesia. Kata “strange” dapat pula berarti sesuatu yang memiliki perbedaan mencolok. Dari kalimat tersebut menunjukkan bahwa dia merasakan perbedaan budaya selama tinggal di Indonesia.
Keunikan lain yang ditemukan adalah para remaja dewasa di Jerman sudah berani untuk hidup sendiri, jauh dari keluarga. Berdasarkan data yang ditemukan bahwa remaja dewasa Jerman suka terjun dalam bidang sosial dan pengabdian masyarakat. Tak heran, teman saya (orang Jerman) adalah salah satu remaja dewasa yang senang bergelut dalam bidang sosial dan pengabdian. Ini berbeda dengan budaya kita yang masih memberikan garis jelas tentang status remaja dewasa dalam keluarga. Remaja dewasa kita cenderung masih “berada” dalam keluarga. Maka tak jarang di Indonesia banyak kita temukan keluarga besar yang beranggotakan lebih dari keluarga inti. Namun berbeda di Jerman, kebanyakan sebuah keluarga hanya terdiri dari anggota inti yaitu ayah, ibu, dan anak.
 keramahan tidak selalu mengindikasi mereka mudah menjalin pertemanan dengan orang lain. Ini jelas sangat dipengaruhi pula oleh nilai sebelumya. Bisa kita katakan mereka cukup selektif dalam berteman. Mereka tidak mudah berhubungan atau menjalin komunikasi dengan orang yang mereka anggap kurang  ramah. Seperti yang kita ketahui bahwa kesan pertama membawa segalanya. Bahkan sesekali mereka mempertimbangkan attitude seseorang ketika mereka berbicara. Ketika saya bertanya kepada dia “bagaimana anda bisa memilih untuk berbicara atau tidak dengan orang lain”, dia menjawab “well, it’s about the feeling anyway”. Dari percakapan tersebut menjelaskan bahwa mereka cukup selektif dalam memilih teman berbicara hingga tak jarang mereka memperhatikan/mempertimbangkan kesan pertama dari dari lawan bicara.    
Selanjutnya, hal yang saya dapat dari dia adalah penyebutan nama tanpa ada imbuhan status didepan nama seperti kak, dik, pak, bu, dll. Tak heran ketika pertama kami bertemu terdapat sedikit keasingan ketika saya memanggil dia dengan “Miss.”. dia justru menyebutkan bahwa pemanggilan nama pendek justru mengindikasikan kewajaran dan kenyamanan bagi mereka. Bicara masalah tampilan fisik, orang Jerman memang memiliki kulit yang putih kemerahan. Namun justru mereka lebih suka jika kulit mereka cenderung lebih gelap. Ini yang terjadi ketika sesekali saya dan teman-teman saya, termasuk dia (orang Jerman) pergi berlibur. Sering kali kami menghindari sinar matahari dan mencari tempat rindang. Namun berbeda dengan teman Jerman saya yang sangat suka berada di bawah sinar matahari. Bahkan kami sedang naik sepeda motor, dia pernah bertanya “why are you wearing that?”  (kenapa kok pakai itu/sarung tangan?). kemudian saya menjawab “it protects me from the sun” (ini melindungiku dari sinar matahari). Jelas bahwa kita orang Indonesia lebih suka untuk menghindari sinar matahari untuk menjaga kulit tetap cerah. 
Aspek lain yang menonjol adalah ketepatan  waktu. Mereka sangat menghargai waktu.  Jerman sangat menghargai waktu, jika ada janji, tidak akan berubah waktu dengan mudah. Orang Jerman jika diundang ke rumah orang lain atau pergi keluar untuk mengunjungi teman, akan tiba dengan tepat waktu , tidak membuang-buang waktu dengan datang lebih awal ataupun terlambat. Di Jerman jika tidak ada acara khusus, mereka harus menghargai tetangga sekitar dengan tidak diperbolehkan menbuat kebisingan dari pukul 20:00-08:00 hari berikutnya. Jika ada acara khusus, harus minta izin di awal ke tetangga-tetangga. Jika tidak, akan menuai protes dari tetangga dan bahkan akan dilaporkan ke polisi. Dalam hal ini saya memiliki pengalaman tentang kedisiplinan waktu orang Jerman. Ini diperkuat dengan ketepatan waktu teman saya (orang Jerman) yang datang 10 menit lebih cepat dari perjanjian yang kami buat. Ketika itu rumah dia cukup jauh. Dan ini membutuhkan kurang lebih 20 menit untuk ke tempat kami bertemu. Belum lagi kemacetan yang terjadi. Saya sedikit kaget pertama, karena saya berfikir paling tidak dia harus mempersiapkan untuk berangkat 40 menit jika dia akan datang 10 menit lebih awal dari jam janjian. Namun ternyata dia dapat melakukannya. Kemudian saya sadar bahwa hal tersebut menunjukkan kesungguhan orang Jerman untuk menepati janji. Hal ini pula yang menyebabkan perlu adanya penyesuaian budaya ketika salah satu dari kedua budaya, baik orang Indonesia maupun orang Jerman bertemu.


PENUTUP
Sebagai makhluk sosial manusia kita dituntut untuk bisa menjalin hubungan (bersosialisasi) dengan manusia lainnya. Dalam melakukan sosialisasi tersebut tidak jarang kita berkenalan, berteman, bergaul atau bersahabat dengan orang lain yang berbeda suku bangsa, negara, nilai-nilai tradisi, pemikiran, latar belakang budaya, dll. Untuk itu maka diperlukan suatu pengertian diantara keduanya. Saling pengertian ini dapat diwujudkan apabila dari setiap individu secara pribadi mau belajar budaya orang lain. Individu yang gagal dalam mengadaptasi budaya lain dapat menderita gegar budaya (culture shock) yaitu kecemasan yang disebabkan oleh hilangnya tanda-tanda dan lambang-lambang dalam pergaulan sosial.
Saran
Dalam menjalin pertemanan lintas budaya, dibutuhkan kesadaran berbudaya yang tinggi. Karena itu perlu memperhatikan hal berikut ini untuk melakukan komonikasi dan hubungan lintas budaya secara efektif:
·         adanya sikap memupuk rasa toleransi budaya
·         adanya sikap menghormati anggota budaya lain
·         adanya sikap menghormati budaya lain sebagaimana adanya, dan bukan sebagaimana yang kita kehendaki.
·         adanya sikap menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak.



Daftar Pustaka
Fakta menarik tentang Jerman http://kaskus-forum2.blogspot.com/2014/04/fakta-menarik-tentang-jerman.html, diakses 11 Januari 2015
Fakta Unik tentang Jerman. 2014. http://www.berkuliah.com/2014/07/50-fakta-unik-tentang-jerman.html, diakses 11 Januari 2015.
Geißler, R. 2014. http://www.tatsachen-ueber-deutschland.de/id/masyarakat/main-content-08/masyarakat-jerman-modern-majemuk-dan-terbuka.html. diakses 15 Januari 2015.

Levine, D.R., Adelman, M.B. 1992. Beyond Language; Cross Culture Communication. New York: Prentice Hall. 

Monday, February 3, 2014

Speech Act Theory



UNDERSTANDING INTENTIONS FROM GOVERNOR ELECTION CANDIDATES’ SLOGAN IN 2012 BASED ON SPEECH ACT THEORY

M. Ghozali Affan
Study Program of English Language Teaching and Literature
The faculty of Culture Studies
School of Undergraduate Studies of University of Brawijaya

            Language is a medium for conveying messages. One of the main functions of language is to deliver message from the speaker to the hearer. It shows how language gives an important role in delivering speaker’s intention when having communication with others. By using language, people can constantly extend the messages to be easily received by their interlocutors. Hence, language is not only related to producing utterances, but through language people can completely deliver their intentional message as well.
When speaking and giving utterance, everyone has the different ways in showing their intention. Speakers usually have specific intentions by purpose they want others to recognize (Grice, 1957 in Holtgraves, 2008). The situations, for instance, in campaigns, classrooms, ceremonies, conferences, theaters, and so on also influence the intention of what they have spoken. One’s feeling and emotion are likely included to be one of the reasons which cause the difference of showing speaker’s intention. When people try to joke, they tend to use the funny expression to show the intention. But, it is unlikely to guess people’s intention from only the utterances spoken when they try to make or tell a lie to others, unless they finally tell us the truth.

Language and Pragmatics
Language is basically a media for communication while pragmatics is a helping tool to fully reach the main purpose of communication itself. In fact, pragmatic which generally discuses about the relation between language and the users is quite likely to be considered as the essential prerequirementto help the hearers and readers understand what the speakers and writers mean to. By applying pragmatic in analyzing one’s utterance, we will not only understand the explicit meaning of the utterance, but also the implicit meaning and intention of the speakers or the writers.
Regarding to the explanation above, pragmatic already provides complete analysis of linguistic side that really helps us to understand more deeply about what the speaker means. Pragmatic also involves the interpretation based on a particular context and how the context influences what is said (Yule, 1996:3). As we have noticed that people somehow have the hidden significance (invisible meaning) and intention when they speak or produce utterances. That will be certainly understood through pragmatic, because pragmatic has certain terms to analyze it such as deixis, reference, presupposition, implicature, speech act, and so on. Therefore, applying pragmatic in analyzing and understanding to people’s utterance is no doubt suggested. 

Speech Act Theory
In attempting to actualize themselves, people do not only make utterances containing grammatical structure and words, they generally perform actions via those utterances (Yule, 1996:47).We call those actions as speech act which this essay later focuses on. To make it simple, it is commonly described more specific labels, such as request, compliment, invitation, promise, complaint, or apology.
            The action performed by producing an utterance will consist of three related acts. They are locutionary act, illocutionary act, and perlocutionary act (Austin, 1962 in Underwood, 2008). Locutionary act is the basic act of the utterance itself or we simply say the specific words the speaker says. Saeed (2009:228) states that it also means the act of saying something that makes sense in a language. The second, the action intended by the speakers is termed the illocutionary act (Saeed, 2009:228). It is related to the speaker’s purpose (intention in mind) of producing utterances. The third, called the perlocutionary act, focuses on what follows an utterance as the effect the speaker intends the hearer to recognize or do (Yule, 1996:49). Those three acts are related each other.

Slogan
            Slogan is a kind of short phrase which can be easily remembered which is usually used in advertising (Oxford, 2008). Supporting the idea above the slogan is often made from a word or phrases used in advertising or promotion to generally show a characteristic position, a stand, or a target to be gained (Blue, 2003). It is usually used for giving whether promise, directive or statement. Slogan has more communicative meaning than just what is said. By combining the appropriate words, the slogan will be created.
            Working without a slogan is like going undercover (Barnes, 2000). It is like moving without an “ID tag”. You might get the job done, but only a small number of people will know and seek you out for help (or make contributions). The lack of a slogan means extra work for your mailing. You have to do more explaining about who you are and what you are doing.
            A good slogan however has certain qualities that make it really work (Barnes, 2000). First, the slogan should be clear and concise by covering all bases in as few words as possible. It is suggested that the slogan be writen in present tense because it stresses action, effort, and what they are doing now for a particular cause. The last, appealing to people what you are trying to reach is also essentially asserted in the slogan. Those qualities make the slogan memorable and lasting.

Slogans of Jakarta Governor Election Candidates in 2012
            As we have known, most politicians or candidates around the world who are running for any election always try to make any slogan that can help them promote theirselves to public. The slogan they make should be short, intereting, meaningful, and able to attract public attention. That is the way they do to effectively get any support and vote through their slogan.
Related to the explanation above, we now focus on analyzing the slogan especially used by the candidates of Jakarta governor election in 2012. At that time, the governor candidates, in Indonesia we say cagub were competing to voice their voices. They made some slogans which really helped them for their campaign, then they exposed to societies. Of course, the reason they did so is with all purposes that the slogan had a power to attract public attention.
           
Speech Act in Slogans of Jakarta Governor Election Candidates in 2012
            By holding the public election, the governor candidates had already had their own slogans since they were prepered for that. One of them is Maju Terus Jakarta which belongs to Foke and Nara. The slogan clearly conveys that Jakarta has reached the good quality since it is leaded by the expert governor (Foke). Then, it does mean that the next duty is only to continue that achievement and give Foke and Nara chance to lead the city again. Through the slogan, Foke who was still the governor of Jakarta shows that he believes with his achievement he gave to Jakarta society. However, Foke should be wary because his slogan might also hit back to himself. It could happen when the people precisely think that Jakarta is still in bad condition and has no improvement at all.
Another slogan is Jakarta Hebat: Humanis, Egaliter, Berani, Amanat, Tanggap. This slogan belongs to Hendardji and Riza. It has some short positive jargons. This slogan becomes the longest slogan. But without any certain action and reaction, this slogan, in fact, has meaningless purpose, because it sounds strange and ordinary. The words Humanis, Egaliter, Berani, Tanggap are kinds of adjective which the function is to modify the noun (in this context, the noun is Jakarta). Yet, the word amanat does not make any sense and it is not suitable with the word Jakarta, what is the meaning of Jakarta amanat? In this situation, Hendardji-Riza’s slogan has uncompleted meaning and purpose which can make people confused. This also shows that Hendardji and Riza do not really express their plan clearly.
Next slogan is Jakarta Baru. Considering the shortness, this slogan definitely becomes the shortest one which also seems effective and feels fresh. This slogan belongs to Jokowi and Basuki. This slogan only has two words that make it simpler. Jokowi and Basuki try to give a perception that Jakarta really needs something new and different from now just like what the people hope. Another uniqueness of this slogan is that this slogan has two initial letters (J and B) which are the same as the initial candidates’ names. Does it include the plan? We do not know exactly. The main point, the slogan does become interesting for Jakarta societies.
Ayo Beresin Jakarta was a slogan which belongs to Hidayat and Didik. They make the slogan like a persuasive word. It means they try to invite Jakarta society to finalize and reform Jakarta. The best part ofthis slogan is that it constantly persuades the involvement of Jakarta societies. It also shows that before now Jakarta is in bad condition, then these candidates try to fix it all. But the next duty is of course they should reform Jakarta in particular short time because Jakarta societies generally want the sooner changes.
Next is Berdaya Bareng-bareng. This slogan belongs to Faisal and Biem. It is probably easy to remember because the initial letters of the slogan all begin with the same letters (B). But it is not the only strategy. The power of this slogan is the use of the words “bareng-bareng” which place Faisal and Biem in the same position with Jakarta society. They express their intention quite clearly that they want to invite more the low and average social class to work together rather than invite the high class just like the government usually do.
The last slogan is Tiga Tahun Bisa. This slogan belongs to Alex and Nono. Among other slogans, this slogan is likely to be considered as the brave and concrete one according to the time. Alex and Nono are very certain to reform all the disorganizations in Jakarta only in three years. Do Jakarta societies also believe that they can do it? Some will be sure, while others are still uncertain about that promise because they know that Jakarta has a lot of disorganizations such as social problems, environment, flood, traffic jam, and so on. Of course it still depends on their own perspectives.

CONCLUSION
            Understanding utterances needs to apply the speech act theory because an utterance has more communicative meaning than what is said especially the slogans made by the governor candidates of Jakarta election in 2012. The other reason is that through slogans the candidates show their identities and plans. It will be so much helpful for people wherever they are to consider this as the essential thing to understand and interprete those slogans especially for the people living in Jakarta so that they know what the candidates intend to do and plan.

References
Barnes, T. 2000. How to Craft A Good Slogan That “Sell” Your Organization. Fund Raising Management.
Blue, A. 2003. Taglines, Slogan, and Bear-oh, My. Information Outlook.
Bull, V. 2008. Oxford Learner’s Pocket Dictionary: Four Edition. China: Oxford University  Press.
Holgraves, T. 2008. Conversation, Speech act, and Memory. Indiana: Ball State University. Memory&Cognition, 36 (2): 361-374.
Saeed, J.I. 2003. Semantic, Second Edition. United Kingdom: Blackwell Publishing.
Underwood, W. 2008. Recognizing Speech Acts in Presidential E-records. Georgia Institute of Technology.
Yule, G. 1996. Pragmatics. Hong Kong: Oxford University Press.


Sunday, February 2, 2014

Pengaruh Bahasa Pertama terhadap Bahasa Kedua

Hi everyone...
Salam kenal dari saya untuk teman-teman semua. Di kesempatan kali ini saya akan membagikan contoh makalah yang saya buat saat mengerjakan tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia. Disini saya akan berbagi format penulisan makalah yang baik dan benar eisss.. :)
Saya memilih topik tentang pengaruh bahasa pertama dalam proses pembelajaran bahasa kedua. Topik ini menarik bagi saya karena kasus ini sering terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia kita sekarang yang notabene merupakan masyarakat multi bahasa. In addition, sadar atau tidak kita pun mengalaminya. Semoga makalah ini bisa membantu teman-teman dalam menambah wawasan atau hanya sekedar menambah referensi tentang penulisan makalah Bahasa Indonesia.
Happy learning... :)



PENGARUH BAHASA PERTAMA DALAM PROSES PEMBELAJARAN BAHASA KEDUA



Makalah
Memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia
yang dibina oleh Bapak Didin Widyartono, M.Pd



Oleh :
M. Ghozali Affan
125110500111006







UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
April 2012


UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Kuasa atas segala limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isi yang sangat sederhana yang berjudul “Pengaruh Bahasa Pertama Dalam Pembelajaran Bahasa Kedua”. Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Didin sebagai dosen pengampu  mata kuliah Bahasa Indonesia dan semua dosen yang telah membina dan mengarahkan saya untuk menyusun makalah ini, serta kepada seluruh teman-teman mahasiswa.
Makalah ini memuat informasi tentang sejauh mana pengaruh bahasa pertama (B1) dalam pembelajaran bahasa kedua (B2). Tema ini sengaja dipilih karena sangat menarik untuk ditelaah ulang dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap pembelajaran bahasa.
Semoga makalah ini dapat membantu menambah wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca, dipergunakan sebagai salah satu acuan, dan petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam profesi keguruan. Makalah ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Malang, Desember 2012

                        Penulis






DAFTAR ISI

Halaman
UCAPAN TERIMA KASIH............................................................................. ii
DAFTAR ISI..................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................... 2
1.3 Tujuan dan Manfaat....................................................................................... 2
1.3.1 Tujuan......................................................................................................... 2
1.3.2 Manfaat....................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bahasa......................................................................................... 3
2.1.1 Hakekat Bahasa.......................................................................................... 3
2.1.2 Fungsi Bahasa............................................................................................ 3
2.2 Pengertian Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua............................................ 4
2.3 Keterkaitan Bahasa Pertama dalam Pembelajaran Bahasa Kedua................ 5
2.4 Transfer dan Interferensi antara B1 dan B2.................................................. 8

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................................. 11
3.2 Saran............................................................................................................ 12
DAFTAR RUJUKAN........................................................................................ 13








BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Bahasa merupakan suatu wujud yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, ’’sehingga dapat pula dikatakan bahwa bahasa adalah milik manusia yang telah menyatu dengan pemiliknya’’ (Chaer, 2009:5). Bahasa juga merupakan alat untuk berkomunikasi, menyampaikan pikiran, gagasan, ekspresi, dan menjalin interaksi (hubungan timbal balik) satu sama lain dalam kehidupan manusia.
Adanya tuntutan globalisasi dan perkembangan IPTEK yang semakin pesat, membuat kita sadar bahwa antara satu bangsa dengan bangsa lain memiliki ketergantungan (saling membutuhkan). Sehingga menjalin hubungan antar negara adalah mutlak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan satu sama lain. Karena membangun hubungan baik akan meningkatkan kemajuan bangsa dan kesejahteraan bersama.
Semua bangsa memiliki ciri khas tersendiri, baik sistem pemerintahan, politik, ekonomi, budaya, dan bahkan bahasa mereka. Tentu kita harus sadar bahwa kita tidak akan bisa menjalin hubungan baik antar negara dengan hanya mengandalkan satu bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda bangsa, yang tentunya memiliki bahasa berbeda pula. Oleh karena itu, manusia harus belajar dalam bidang penguasaan bahasa agar dapat berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda latar belakang bangsanya.
Chaer (2009:251) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran bahasa, khususnya pembelajaran bahasa kedua, seperti faktor motivasi, penyajian formal, lingkungan, dan sebagainya. Salah satu faktor yang menarik bagi penulis untuk ditinjau lebih lanjut ialah pengaruh bahasa pertama (bahasa ibu) terhadap proses pembelajaran bahasa kedua yang menentukan keberhasilan seorang dalam proses pemerolehan bahasa kedua. Karena itu, penulis akan membahas secara lebih mendalam terkait hal ini.



1.2  Tujuan dan Manfaat
1.2.1        Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahasa pertama (meliputi segala unsur bahasa, baik dari segi fonologi, morfologi, sintaksis, maupun leksikon) terhadap bahasa kedua, menjelaskan adanya transfer dan interferensi dari bahasa pertama kedalam proses pembelajaran bahasa kedua.Makalah ini juga bertujuan mengetahui perihal apa yang akan terjadi ketika proses pembelajaran bahasa kedua dilakukan ketika penalurian bahasa pertama telah dialami.
1.2.2        Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan penjelasan akan peranan bahasa pertama dalam proses pemerolehan bahasa kedua, serta menjadi sebuah inspirasi baru berupa gagasan, motivasi, dan dukungan untuk sistem pembelajaran bahasa kedua di negara kita selanjutnya.

1.3  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian sekilas tentang permasalahan diatas maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa hakikat dan fungsi bahasa itu?
2.      Apa pengertian dari bahasa pertama dan bahasa kedua?
3.      Apa keterkaitan bahasa pertama ketika pembelajaran bahasa kedua telah dimulai?
4.      Bagaimana transfer dan interferensi antara bahasa pertama dan bahasa kedua terjadi?






BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bahasa
2.1.1 Hakikat Bahasa
Secara umum bahasa merupakan suatu alat untuk berkomunikasi. “Bahasa merupakan alat utama dalam komunikasi yang memiliki daya ekspresi dan informasi yang benar” (Indah & Abdurrahman, 2008:46). manusia sangat membutuhkan bahasa untuk membangun interaksi antara satu dengan yang lain. Sebagai manusia yang aktif, dalam  kehidupan bermasyarakat, orang sangat bergantung pada penggunaan bahasa. Hal ini sesuai dengan pernyataan dimana ada masyarakat, disitu ada penggunaan bahasa. Dengan kata lain, dimana ada aktifitas terjadi, disitu aktifitas bahasa tercipta(Indah & Abdurrahman, 2008:46).
Chaer (2009:30) menyatakan “para pakar linguistik deskriptif biasanya mendefinisikan bahwa bahasa sebagai satu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer, ... yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasi diri”. Chaer juga menambahkan bahwa bahasa merupakan sistem yang bersifat sistematis, bukan hanya terbentuk dari sistem tunggal saja, tetapi terbentuk oleh sejumlah subsistem yang meliputi sintaksis, fonologi, dan leksikon.
Asal usul bahasa sangat bermacam-macam dan berhubungan erat dengan kebudayaan manusia. Von Schlegel (Chaer, 2009:31-32) berpendapat “bahasa-bahasa yang ada di dunia ini tidak mungkin bersumber dari satu bahasa. Asal-usul bahasa itu sangat berlainan tergantung pada faktor-faktor yang mengatur tumbuhnya bahasa itu”. Menurut Von Schlegel, dari manapun asal bahasa, akal manusialah yang membuat bahasa itu sempurna.Dengan kata lain, bahasa berasal dari setiap kebudayaan manusia di dunia.
2.1.2 Fungsi Bahasa
Wardhaugh (Chaer, 2009:33), seorang pakar sosiolinguistik mengatakan bahwa bahasa memiliki fungsi sebagai alat komunikasi, baik berupa lisan maupun tulisan.  Sejalan dengan pendapat tersebut, Indah dan Abdurraman (2008:50) mengemukakan pendapat berikut ini:
Pertama, fungsi bahasa sebagai intrapersonal (mathetik) yaitu, penggunaan bahasa untuk memecahkan persoalan (problem solving), mengambil keputusan (decision making), berfikir, mengingat dan sebagainya. Kedua, fungsi bahasa yang bersifat interpersonal (prakmatik), yaitu yang menunjukkan suatu pesan atau keinginan penutur (message). Biasanya diungkapkan dalam bentuk perintah, kalimat tanya, dan kalimat berita.
Sejalan dengan pendapat diatas, Kinneavy (chaer, 2009:33) juga mengemukakan lima fungsi dasar dari bahasa secara lebih khusus, yakni bahasa sebagai fungsi ekspresi (berupa ungkapan batin/perasaan), informasi, eksplorisasi (berhubungan dengan penggunaan bahasa untuk menjelaskan suatu hal, keadaan dan perkara), persuasi (bersifat mengajak/membujuk), dan hiburan.

2.2 Pengertian Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua
Bahasa pertama adalah bahasa yang pertama kali anak peroleh ketika  masih kecil. Isnaini, Iswahyuni, Hapsari, dan Dewi (2011:2) menjelaskan bahwa “the important features that all shades of L1s share are that they are assumed to be languages which are acquired during early childhood, normally beginning before the age about three years”. Sofa (2008) menyatakan bahasa pertama (selanjutnya disingkat B1) adalah bahasa pada anak ketika mulai berkomunikasi dengan lingkungannya secara verbal, dan semua itu terjadi secara alami.
Bahasa kedua adalah bahasa yang dipelajari setelah seseorang memperoleh bahasa pertamanya. Dalam kamus besar, bahasa kedua adalah bahasa yg dikuasai oleh bahasawan bersama bahasa ibu pada masa awal hidupnya dan secara sosiokultural dianggap sebagai bahasa sendiri.Sering pula Isnaini, Iswahyuni, Hapsari, dan Dewi (2011:2-3) menyebut bahasa kedua(selanjutnya disingkat B2) sebagai target language (TL), meskipun bahasa yang dipelajari tersebut menjadi bahasa yang ketiga, keempat, dan seterusnya.
Pemerolehan bahasa pertama berbeda dengan pembelajaran bahasa kedua. Syafriandi (2009) menyatakan “pemerolehan (akuisisi) bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. ... . Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya”. Jadi, pemerolehan bahasa berhubungan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berhubungan dengan bahasa kedua.

2.3 Keterkaitan Bahasa Pertama dalam Pembelajaran Bahasa Kedua
Terdapat beberapa hubungan antara B1 dengan B2 yang tengah seseorang pelajari, baik meliputi persamaan dan perbedaan unsur kebahasaan, maupun struktur bahasa. Chaer (2009:246-247) mengemukakan “kesamaan itu terletak pada urutan pemerolehan struktuk bahasa, seperti modus interogasi, negasi, dan morfem-morfem gramatikal. ... . Unsur kebahasaan tertentu akan diperoleh terlebih dahulu, sementara unsur kebahasaan lain baru diperoleh kemudian”.  Sofa (2008) menyebutkan salah satu perbedaan antara pemerolehan bahasa pertama dan bahasa kedua ialah bahwa pemerolehan bahasa pertama merupakan komponen yang hakiki dari perkembangan kognitif dan sosial seorang anak, sedangkan pemerolehan bahasa kedua terjadi setelah perkembangan kognitif dan sosial seorang anak sudah selesai. Dalam hal penguasaan lafal, anak-anak lebih dapat menguasai pelafalan B1, sedangkan untuk pelafalan B2 mereka cenderung lebih kesulitan dan kurang sempurna.
Charles Fries dan Robert Lado (Chaer, 2009:247) mengembangkan hipotesis yang disebut Hipotesis Kontraktif yang membahas perbedaan antara B1 dan B2. Perbedaan itu dapat memberikan kemudahan maupun kesulitan dalam pemerolehan B2. Adanya kemudahan dalam belajar B2 karena terdapat beberapa kesamaan antara B1 dan B2. Sebaliknya, timbulnya kesulitan dalam pembelajaran B2 karena adanya perbedaan antara kedua bahasa, yang bahkan dapat menimbulkan kesalahan.
Dalam hipotesis konstaktif menyatakan bahwa seorang pembelajar B2 seringkali melakukan transfer B1 kedalam B2-nya dalam menyampaikan suatu gagasan. chaer (2009:247) mengemukakan “transfer ini dapat terjadi pada semua tingkat kebahasaan: tata bunyi, tata bentuk kata, maupun tata kalimat”. Ketika pembelajaran B2 berlangsung, terjadi tansfer positif dan negatif antara B1 dan B2. Chaer (2009:247) mengartikan transfer positif adalah adanya kesamaan struktur yang menimbulkan kemudahan, sedangkan transfer negatif berkaitan dengan ketidaksamaan struktur kedua bahasa yang menimbulkan kesulitan dalam proses pembelajaran bahasa tersebut.
Selama pembelajaran B2 berlangsung, seseorang khususnya pada anak akan cenderung masih menggunakan B1 untuk mengawali beberapa ucapan dalam B2 sebelum bahasa keduanya benar-benar didapat. Dalam hipotesis bahasa pertama yang dikembangkan oleh Stephen Krashen (Chaer, 2009:249) menyatakan pendapat berikut ini:
... bahasa pertama anak akan digunakan untuk mengawali ucapan dalam bahasa kedua, selagi penguasaan bahasa kedua belum tampak. Jika seorang anak pada tahap permulaan belajar bahasa kedua dipaksa menggunakan atau berbicara dalam bahasa kedua, maka dia akan menggunakan kosa kata dan aturan tata bahasa pertamanya. ... berilah kesempatan pada anak untuk mendapatkan imput yang bermakna dan untuk mengurangi filter afektifnya. Dengan demikian, penguasaan bahasa kedua dengan sendirinya akan berkembang pada waktunya.
Ellis (Chaer, 2009:256) mengemukakan “para pakar pembelajar bahasa kedua pada umumnya percaya bahwa bahasa pertama (bahasa ibu atau bahasa yang pertama diperoleh) mempunyai pengaruh terhadap proses penguasaan bahasa kedua pembelajar”. Sejalan dengan itu, Dulay (Chaer, 2009:256) menyatakan bahwa bahasa pertama menjadi penggangu dalam proses pembelajaran bahasa kedua. Ini terjadi karena secara umum seorang pembelajar B2 secara sadar maupun tidak mentransfer unsur B1 kedalam B2 ketika dia sedang menggunakannya. Kemudian Indah dan Abdurrahman (2008:84) mengungkapkan “pengajar bahasa asing beranggapan bahwa diperlukan lebih banyak waktu untuk mempelajari bahasa yang jauh daripada yang dekat perbedaannya dengan B1”. Seperti contoh, penutur bahasa inggris membutuhkan lebih banyak waktu mempelajari bahasa Cina  daripada bahasa Spanyol. Dari pendapat-pendapat tersebut kemudian timbul pertanyaan di benak kita, terus apa yang harus kita lakukan, dan dapatkah gangguan B1 dalam proses pembelajaran B2 bisa dihilangkan, atau paling tidak dapt berkurang? Ada dua teori yang bisa menjadi kajian atau jawaban atas pertanyaan diatas, yaitu:
a.       Chaer (2009:256) menjelaskan sebuah teori stimulus-respon yang dikemukakan oleh kaum behaviorisme yang berbunyi “bahasa adalah hasil perilaku stimulus-respons. Maka apabila seorang pembelajar ingin memperbanyak penggunaan ujaran, dia harus memperbanyak penerimaan stimulus”. Oleh karena itu, peran lingkungan sebagai sumber datangnya stimulus sangat penting dalam membantu proses pembelajaran bahasa kedua. Hamid (Chaer, 2009:256-257) menjelaskan bahwa kaum behaviorisme juga berpendapat proses pemerolehan bahasa adalah sebuah proses pembiasaan, yang berarti semakin seseorang terbiasa untuk merespon stimulus yang datang padanya, semakin memperbesar kemungkinan aktifitas pemerolehan bahasanya. Sebaliknya, jika pembelajar belum bisa secara penuh menerima stimulus dari luar, maka dia belum dapat melakukan aktivitas respon.
Chaer (2009:257) memberikan penjelasan terkait diatas bahwa “pengaruh bahasa pertama dalam bentuk transfer ketika berbahasa kedua akan besar sekali apabila pembelajar tidak terus-menerus diberikan stimulus bahasa kedua”. Menurutnya, memang pengaruh ini sudah menjadi intake (dinarunikan) dalam diri pembelajar, namun dengan adanya pembiasaan yang terus-menerus dilakukan melalui pemberian stimulus yang berkesinambungan, pengaruh (yang dimaksud pengaruh negatif) B1 terhadap proses pembelajaran B2 dapat diminimalisir atau dikurangi.
b.      Dalam teori lain, yakni teori kontrastif, Klein (Chaer, 2009:257) memaparkan “keberhasilan belajar bahasa kedua sedikit banyaknya ditentukan oleh keadaan linguistik bahasa yang telah dikuasai sebelumnya oleh pembelajar”. Sejalan dengan pendapat tersebut, Izzo (Ghazali, 2010:126) menyatakan salah satu faktor yang mempengaruhi pembelajaran B2 adalah aspek linguistik, yakni berkaitan dengan perbedaan antara B1 dan B2 dalam hal pengucapan, tata bahasa, pola wacana. Bananthy (Chaer, 2009:257) menyimpulakan bahwa menurut teori ini “semakin besar perbedaan antara keadaan linguistik  bahasa yang telah dikuasai dengan linguistik bahasa yang hendak dipelajari, semakin besar kesulitan yang dihadapi pembelajar dalam usaha menguasai bahasa kedua”. Bananthy mempertegas pendapatnya dengan menyatakan sebuah solusi bahwa dalam pembelajaran B2, mengetahui unsur linguistik B1 sangat penting untuk menentukan strategi pembelajaran B2, karena belajar B2 tidak berbeda halnya mentransfer bahasa baru diatas bahasa yang sudah ada (dimiliki sebelumnya).

2.4 Transfer dan Interferensi antara B1 dan B2
Pada pembahasan sebelumnya telah dibahas beberapa aspek B1 yang berpengaruh dalam proses pembelajaran B2, bahwa B1 dapat mengganggu penggunaan B2 pembelajar. Pembelajar akan cenderung mentransfer unsur bahasa pertama kedalam bahasa keduanya. Chaer (2009:261) menyebutkan dalam kajian sosiolinguistik disebut interferensi, campur kode, dan kekhilafan (error). Memang, sejalan dengan taraf kemampuan terhadap B2, penggunaan dan proses transfer unsur-unsur B1 ini lama-kelamaan akan berkurang. Interferensi ialah masuknya unsur suatu bahasa ke dalam bahasa lain yang mengakibatkan pelanggaran kaidah bahasa yg dimasukinya baik pelanggaran kaidah fonologis, gramatikal, leksikal, maupun semantis. Dalam peristiwa interferensi terjadi transfer, yaitu penggunaan kaidah bahasa tertentu pada bahasa lainnya (modifikasi, sumber: study cycle.net). Namun, Nabatan (Chaer, 2009:261) mengemukakan “secara teoritis tidak ada orang yang mempunyai kemampuan berbahasa kedua sebaik dengan bahasa pertama”. Yang mungkin terjadi adalah orang mampu berbahasa kedua dalam beberapa bidang kegiatan atau keilmuan saja.
Dalam proses pemerolehan B1 terjadi penuranian. Chaer (2009:261) menyebutkan dalam hipotesis nurani disebutkan bahwa “pemerolehan bahasa pertama yang berlangsung sejak bayi sampai berakhirnya masa atau periode kritis untuk memperoleh bahasa pertama, sedikit demi  sedikit, ... , bahasa pertama itu dinarunikan”, proses penuranian hampir sama dengan proses akuisisi, yakni berlangsung secara tidak sadar, dan proses tersebut sudah mencakup semua kemampuan bahasa, seperti sintaksis, fonologi, morfologi, dan leksikon.
Interferensi yang terjadi antara B1 dan B2 dapat mencakup segala aspek bahasa. Chaer (2009:261-263) memberikan tiga contoh mengenai interferensi berikut ini:
a.       Interferensi dalam tataranfonologi, contoh seorang penutur bahasa Indonesia yang berasal dari pulau Nias sering melafalkan voiceless phoneme bilabial stop [p] menjadi voiceless phoneme labiodental fricative [f].
b.      Interferensi dalam tataran morfologi,contoh tentang pembentukan kata dengan afiks. Dalam bahasa Belanda dan Inggris terdapat kata sufiksisasi, maka banyak pula penutur Indonesia yang kemudian menggunakannya dalam pembentukan kata dalam bahasa Indonesia seperti tendanisasi, turinisasi. Bentuk seperti itu merupakan penyimpangan dari sistem morfologi bahasa Indonesia, karena dalam bahasa Indonesia ada konfisk pe-an untuk membentuk nominal. Jadi, bentuk yang benar adalah penendaan, penurian. Contoh lain, tentang penggunaan bentuk ketabrak, kejebak, dan kekecilan, dalam bahasa Indonesia tergolong kasus interferensi. Bentuk tersebut datang dari bahasa Jawa dan dialek Jakarta, sementara bentuk yang benar adalah tertabrak, terjebak, terlalu kecil.
c.       Interferensi dalam tataran sintaktik, contoh dari bilingual Jawa-Indonesia dan Sunda-Indonesia. Contoh bunyi kalimat-kalimatnya adalah:
·         Disini toko laris yang mahal sendiri.
Kalimat ini jelas berstruktur bahasa Jawa yang sebenarnya berbunyi “ning kene toko laris sing larang dewe”.
·         Surat itu telah dibaca oleh saya.
Kalimat diatas merupakan bentuk  bahasa Indonesia yang terinterferensi bahasa Sunda yang sebenarnya berbunyi “eta surat geus dibaca ku kuring”.
Dewasa ini banyak orang Indonesia dalam menggunakan bahasa sering kali menyelipkan sejumlah leksikal bahasa asing (Inggris, Arab, dan sebagainya). Menurut Chaer (2009:263), hal ini juga merupakan proses transfer sadar dan sengaja dengan dua alasan (a) karena dia tidak tahu padanannya dalam bahasa Indonesia, (b) sebagai sarana gengsi untuk memberi kesan bahwa dia orang pandai”. beliau juga mempertegas pendapatnya bahwa “penggunaan leksikal asing ini ... bukanlah suatu transfer karena bahasa asing itu bukan bahasa pertama si pembicara itu”. Jadi, penggunaan leksikal bahasa asing dalam kebahasaan bukan merupakan proses transfer dari bahasa kedua, karena bahasa asing itu bukan bahasa pertama pembelajar.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi, baik berupa pengungkapan gagasan, ide, ekspresi, maupun penyampaian informasi terhadap orang lain. Secara umum, bahasa tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Ketika suatu  interaksi dibangun, disitulah bahasa berkembang dan digunakan.
Bahasa pertama adalah bahasa yang diperoleh pertama kali oleh anak ketika dia masih kecil. Proses pemerolehan ini disebut acquisition, yang berarti pemerolehan bahasa tersebut terjadi secara tidak sadar dan alami. Ketika anak belajar mengekpresikan kemauannya dalam bentuk bahasa kepada ibunya atau lingkungannnya, disitulah secara alami bahasa pertama anak diperoleh.
Bahasa kedua adalah bahasa yang dipelajari ketika seseorang telah memiliki bahasa pertamanya. Proses pembelajaran B2 lebih bersifat learning. Hal ini karena seseorang tidak lagi mempelajarinya dengan alami, melainkan harus ada upaya dalam pembelajaran bahasa itu. Dalam pembelajaran bahasa kedua seseorang tidak akan terlepas dari pengaruh bahasa pertama. Karena pembelajaran bahasa kedua sama halnya dengan proses penerimaan bahasa baru terhadap bahasa yang telah pembelajar miliki terlebih dahulu. Ini memungkinkan adanya pengaruh unsur B1, baik dalam segi fonologi, sintaksis, morfologi, maupun leksikon terhadap unsur B2. Pengaruh ini dapat berupa transfer dan interferensi antara kedua bahasa tersebut.
Terdapat beberapa hubungan antara B1 dengan B2 yang tengah seseorang pelajari, baik meliputi persamaan dan perbedaan unsur kebahasaan, maupun struktur bahasa. Adanya kemudahan dalam belajar B2 karena terdapat beberapa kesamaan antara B1 dan B2. Sebaliknya, timbulnya kesulitan dalam pembelajaran B2 karena adanya perbedaan antara kedua bahasa, yang bahkan dapat menimbulkan kesalahan.
Transfer dan interferensi adalah proses dimana penutur asli bahasa pertama akan menggunakan unsur B1 ketika dia mempelajari bahasa keduanya. Jadi, unsur bahasa yang berupa persamaan maupun perbedaan antara B1 dan B2, sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran B2. Semakin banyak persamaan unsur B1 (mencakup segi fonologi, sintaktik, morfologi, dan leksikon), semakin mudah proses pembelajaran B2 sebaiknya, semakin besar perbedaan unsur B1 dengan B2 semakin pembelajar mendapat kesulitan.

3.2 Saran
Dari pembahasan diatas, perlu kita ketahui bahwa adanya pengaruh B1 terhadap B2 akan selalu ada. Dalam proses pemerolehan B1, seseorang telah mengalami penalurian (pemerolehan bahasa secara alami), sehingga secara otomatis segala unsur bahasa dalam B1 akan melekat dan mudah dia kuasai. Lain halnya dengan B2, seseorang masih harus berusaha (secara sadar) untuk menguasai segala unsur  bahasa tentang B2. Dari itu, ada empat saran untuk mendapatkan kemampuan lebih baik dalam belajar B2, yaitu:
a.       Proses pemerolehan bahasa adalah sebuah proses pembiasaan, yang berarti semakin terbiasa seseorang untuk merespon stimulus yang datang padanya, semakin besar kemampuandalam penguasaan bahasanya.
b.      Meningkatkan motivasi dalam belajar B2.
c.       Mempelajari segala aspek yang berhubungan dengan B2 yang tengah dipelajari, yakni aspek budaya dari bahasa kedua tersebut. Ini sangat membantu dalam pengembangan pembelajaran bahasa. Karena kebanyakan pembelajar bahasa kedua hanya mempelajari dari unsur kebahasaannya saja.
d.      Meningkatkan intensitas penggunaan B2 dalam praktik keseharian. Ini sejalan dengan ungkapan practice makes perfect, yang berarti semakin sering seseorang berlatih menggunakan B2 tersebut, semakin cepat B2 dikuasai.


DAFTAR RUJUKAN


Chaer, A. 2009. Psikolinguistik: kajian teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Ghazali, A.S. 2010. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa: dengan pendekatan komonikatif-interaktif. Bandung: PT Refika Aditama.
Indah, R.N., &Abdurrahman. 2008.  Psikolinguistik: konsep & isu umum. Malang: UIN Malang Press.
Isnaini, Iswahyuni, Hapsari, Y.&Dewi. Modul Bahasa Inggris: Foreign Language Acquisition. Universitas Brawijaya.
Kamus Besar.com. bahasa kedua, (http://www.kamusbesar.com/47875/bahasa-kedua), diakses 8 Juni 2013.
Safriandi. 2009. Bahasa Pertama Vs Bahasa Kedua, (http://nahulinguistik.wordpress.com/2009/11/09/bahasa-pertama-vs-bahasa-kedua/), diakses 8 Juni 2013.
Sofa. 2008. Pemerolehan Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua, (http:// massofa.wordpress.com/2008/01/28/pemerolehan-bahasa-pertama-dan-bahasa-kedua_CARI ILMU ONLINE BORNEO.htm), diakses pada 7 Juni 2013.
Study Cycle.net. 2010. Interferensi Bahasa, (http:// www.interferensi-bahasa.html), diakses 7 Juni 2013.